Apa sebenarnya akar permasalahan bangsa kita? Hampir setiap hari ada berita-berita yang tidak baik kita dengar- pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, korupsi dan beragam kasus lainnya.
Muncul pertanyaan, apakah persoalan-persoalan ini dan persoalan lainnya bisa dipecahkan? Apakah ada solusi untuk
menghentikannya? Jawabannya: tidak.
Tak seorang pun bisa
membereskan persoalan-persoalan yang disebut di atas. Sekalipun ada sosok-sosok seperti Bung Hatta, Jokowi, Ahok, Risma dari Surabaya, Ridwan Kamil dari Bandung, sosok-sosok seperti ini tidak bisa
memecahkan persoalan-persoalan di atas sampai tuntas.
Kenapa?
Karena mereka adalah manusia dan setiap orang memiliki permasalahan-dasar yang sama. Jikalau demikian, apa yang bisa dilakukan?
Yang bisa dilakukan adalah menekan intensitas persoalan dan dampaknya ke
level yang terendah. Kita hanya bisa menahan laju rusaknya.
Memecahkan akar persoalan bangsa
harus didekati dengan pendekatan teologis. Pendekatan para ahli mungkin kelihatan menarik, tapi tetap tidak sanggup memecahkan teka-teki akar persoalan dasar manusia.
Sebutlah misalnya teori John Dewey yang mengasumsikan bahwa persoalan manusia berasal dari lingkungan. Namun, pendekatan ini tidak mampu menjawab sumber permasalahan manusia.
Hanya pendekatan teologis dibumbui dengan pendekatan filosofis dan praksis merupakan pendekatan yang paling tepat untuk menjawab asal usul persoalan manusia.
Pendekatan teologis menuntut kita untuk menelusuri sejarah dari umat manusia itu sendiri. Manusia sudah hidup kurang lebih 6000 tahun.
Masih ada yang memberi perkiraan bahwa manusia sudah hidup jutaan tahun. Angka ini tentu tidak begitu sebab persoalan dasar manusia tidak mengalami evolusi.
Substansi persoalan sama dari abad ke abad. Fenomena atau bentuk persoalan bisa lain, tapi substansi persoalan tidak berubah.
Pembunuhan,
penipuan, pencurian, keserakahan, iri hati, dan beragam bentuk persoalan lainya
sudah eksis ribuan tahun.
Dari mana benih persoalan dasar tersebut? Siapa sumber permasalahan ini? Bila dijawab dengan gamblang, sumbernya dari orang tua.
Dan bila terus ditelusuri, dari mana orang tua mewarisinya? Itu datang dari generasi sebelumnya, dan akhirnya, penelusuran akan sampai pada manusia pertama.
Tentu, masih bisa diperdebatkan proses penularan akar persoalan tersebut dari manusia pertama ke generasi-generasi sesudahnya.
Harus diakui bahwa manusia pertama pernah hidup di muka bumi ini- apakah itu di zaman Pleistosen atau zaman Paleosen, meminjam istilah para ahli Geologi- itu tidak jadi soal.
Ada dokumen yang menyebutkan bahwa manusia pertama pernah hidup dan kisah ini disajikan di dokumen-dokumen kuno seperti Kitab Suci.
Bagi pengikut agama monoteisme, fakta ini sulit dibantah sebab bila dibantah, sama saja tidak mengakui keberadaan dari Kitab Suci sekaligus menolak keyakinannya sendiri.
Pertanyaan yang menggelitik adalah bagaimana manusia pertama mewarisi benih yang merusak itu? Apa yang terjadi pada mereka? Kitab Suci masih menjawab pertanyaan ini.
Singkat kata, manusia pertama memakan buah pohon yang ada di tengah taman Eden. Sejak itu, natur manusia itu berubah.
Kekuatan yang merusak masuk ke dalam diri manusia dan menyentukh seluruh eksistensi baik jiwa maupun tubuh.
Para ahli teologi menganggap ini sebagai cikal bakal dari seluruh persoalan manusia termasuk akar permasalahan bangsa kita: pembunuhan, pemerkosaaan, pencurian, korupsi, penipuan, keserakahan, kebencian, iri hati, hubungan seks di luar nikah, penggelembungan dana proyek, politik uang, makar dan persoalan lainnya.
Mungkin Anda bertanya, 'Bagaimana kita mewarisi benih merusak itu dari generasi sebelumnya? Bagaimana itu menyebar?' Anda perlu bertanya kepada elit agama; mereka mungkin bisa memberi secercah jawaban.
Renungan:
Copyright 2009-2023 putra-putri-indonesia.com
Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)
Bagaimana Mewujudkan Revolusi Mental?
Kunci Sukses Program Revolusi Mental